Monday, 12 May 2008

Jawabannya adalah...



Hmm... Banyak yang nanya ke gw mengenai satu hal, dan jawabannya gw posting aja ya di blog ini. Sebenernya ini cuma masalah sudut pandang & cara berpikir yang ngga lazim aja buat orang kebanyakan, jadi sebelum posting yang ini dibaca, tolong buka pikiran selebar-lebarnya.

Gw nulis ini cuma untuk ngasi satu perspektif lain... Satu sudut pandang dari mata & otak gw. Mau diterima ya sukur, ngga diterima ya gapapa, toh ngga ada yang rugi. Ya toh?? :)

Pertanyaannya adalah,
"Lo ngga ngerasa rugi Jeng, S-2 lo sekarang ngga kepake?"

Dan jawabannya adalah,
"Ngga."

Nah, ini alasan gw :
(Inget ya, buka pikiran selebar-lebarnya...)

Tujuan awal gw ngambil Master emang bukan buat jadi "spesialis/ahli" dalam sesuatu. Justru gw menghindari bidang yang ngebuat gw jadi terlalu spesialis dalam satu bidang aja. Tujuan awal gw adalah nambah skill banyak-banyak, belajar sesuatu yang baru sebanyak yang gw bisa, & ketemu banyak orang dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Supaya kalo misalnya suatu saat nanti gw bosen ama bidang yang ini atau suatu saat bidang yang lagi gw geluti sedang ngga berjalan dengan baik, gw bisa "lompat" ke bidang yang lain dengan lebih mudah, dibanding kalo gw hanya menggeluti satu bidang aja.

Berhubung gw ini tipe orang yang bosenan ama rutinitas, nah "menghindari-menjadi-spesialis" itu juga salah satu kiat gw supaya gw tetep excited menjalani apa yang gw lakukan. Hasilnya ya gw ngelakuin sesuatu lebih total, ngga setengah-setengah, soalnya gw punya rasa excited itu tadi.

Trus, dengan gw ngambil Master ini, secara ngga langsung gw juga belajar cara belajar, belajar me-manajemen orang, & sekaligus belajar memahami sudut pandang yang berbeda-beda, karena mengharuskan gw buat ketemu banyak orang dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Belajar kerjasama & nyatuin visi dengan banyak orang, dengan menghindari sikap defensif. Karena bidang yang gw ambil ini perlu banyak kerjasama dengan berbagai bidang lainnya, istilahnya : multidisiplin.

Kadang-kadang, kalo gw ngejawab kaya gini ke orang yang nanya, ada beberapa orang yang tanggepannya jadi defensif. Gatau napa. Padahal kan dia yang nanya. Ya kalo emang tujuan gw kaya gitu, mo diapain lagi coba? Akhirnya sekarang gw liat-liat dulu sapa yang nanya, kalo emang keliatan ujung-ujungnya ngajak debat, palingan gw cuma jawab singkat, "Ngga." End of discussion.

Ngga jarang, gw sempet di-underestimate beberapa orang (yang tipe-tipe cynical) karena bawaan gw yang "go-with-the-flow", jadi kesannya ngegampangin masalah banget. Padahal sebenernya sikap "go-with-the-flow"-nya gw ya juga pake mikir. Yahh kalo gw nyulit-nyulitin "masalah" juga si "masalah" ngga akan berkurang, malah tambah mumet kan. Mending dipikirin yang tenang. Otak jadi lebih bisa kerja & bisa ngebantu nyelesein masalah. Ya ngga? Ini sih opini gw aja.

Gw bisa mikir kaya gini juga mungkin karena keluarga besar gw juga rata-rata kaya gitu. Punya rasa tertarik sama banyak hal & jadinya ngedorong diri sendiri buat belajar lebih banyak skill. Belajar 4 tahun di satu bidang bukan berarti kita HARUS MUSTI KUDU berprofesi seumur hidup di satu bidang itu tadi. Be creative.

Kalo kata Robert T. Kiyosaki di dalam buku pertamanya, Rich Dad Poor Dad : "Bahayanya spesialisasi, kalo suatu ketika saya dipaksa keluar dari industri itu, keterampilan hidup saya ngga akan dibayar setinggi itu harganya untuk industri lain."

Yah, berhubung Kiyosaki juga salah satu orang yang "think-out-of-the-box", jadi buat orang kebanyakan pasti opini Kiyosaki ini juga bakal ngeluarin tanggepan defensif lainnya deh. Emang susah kalo mo ngomong ama orang yang kotak pikirannya ga bisa melar, ngga fleksibel. Tapi yahh, sekali lagi, ini cuma masalah sudut pandang. Selama ngga ngerugiin orang lain, take it or leave it.

Done
.

+ + + + +

Btw, gw sempet kok ngerjain beberapa proyek Landscape & Urban Design. Ilmu gw kepake kan.. kepake kan.. Puas? Puas? *tukul mode on* Lagian bukan berarti ilmu yang ngga kepake sekarang, ngga akan dipake lagi di masa depan. Gw sendiri penganut prinsip kalo "ilmu-pasti-selalu-ada-manfaatnya".

Aahhh, last but not least... No heart-feeling yak buat posting yang ini.
Ini kan cuma opini pribadi. Anggep aja dongeng sebelum tidur. :P

Tuesday, 29 April 2008

PS. I Love You

"...I'm not calling for a second chance,
I'm screaming at the top of my voice,
Give me reason, but don't give me choice,
Cos I'll just make the same mistake again,


And maybe someday we will meet
And maybe talk and not just speak
Don't buy the promises 'cause
There are no promises I keep,
And my reflection troubles me
So here I go...
"

taken from James Blunt - Same Mistake (OST PS. I Love You)

When we talk about being separated with our loved ones, by choice or even "taken", there's time when it feels like go through some hell on earth... But as Mitch Albom once said in his book,
"When someone is in your heart, they're never truly gone. They can come back to you, even at unlikely times."

Thus, I'd prefer to say "see you again" rather than "goodbye".

Baru nonton DVD PS. I Love You (2007), film adaptasi dari novel. Film ini sekilas ngeingetin gw sama buku-bukunya Mitch Albom, yang temanya seringkali tentang "berpisah" dengan dunia/seseorang/sesuatu, tapi di sisi lain malah menjadi kesempatan buat nyari makna dari kehidupan yang udah dijalanin.

Kenapa gw suka film ini? Mungkin karena akhir-akhir ini lagi banyak isu tentang perpisahan di kehidupan gw. But then I realized, an ending is just another new beginning. So I decide to get up, take a little step, and keep moving forward... Life, here I come! :)

Bagusss. Nonton deh.

Wednesday, 9 April 2008

Be Creative!

Be_creative_1
*image source : shutterstock.com

Gw beruntung selama gw kerja dalam 2 tahun terakhir ini, baik freelance maupun tetap, gw dapet pimpinan (alias "bos") yang nyaris perfecto, dengan kata lain : "ngga bossy, enak diajak diskusi, dan menikmati hidup."

Bos gw sekarang juga inspiratif banget. Berkebangsaan Singapura, anaknya empat, usia sekitar pertengahan 50an, sepantaran ma orangtua gw-lah pokoknya, and always smiling! Sekilas sih keliatannya sederhana & biasa aja, tapi gitu-gitu dia bos besar yang punya 3 kantor di 3 negara. Canggih niann...

Kalo dia lagi nge-cek kantor Indonesia -- sekaligus buat ngehadirin meeting ama klien juga ding -- pasti gw & temen gw selalu diajakin makan siang/malem bareng. Nah, waktu makan bareng itu, dia sering ngajak diskusi tentang macem-macem, dan biasanya topiknya sangat menginspirasi gw. Dari pilihan kata-katanya tuh keliatan banget kalo dia selalu antusias dalam menjalani hidup. Pokoknya keren banget jalan pikirannya. Salah satu topik yang paling gw inget adalah obrolan tentang salah satu prinsip hidup dia. Ini dia ...

Bos gw punya prinsip dalam ngejalanin hidup :
Five words.
"How can I do better?"

Dia punya teori kalo SEMUA orang itu kreatif.
Bukan cuma orang-orang di dunia kreatif aja yang bisa kreatif. Selama seseorang bisa melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik & lebih efisien, berarti orang itu bisa disebut kreatif. Ya itu tadi, selama seseorang masih dapat bertanya dan bisa mencari jawaban dari pertanyaan tadi kepada dirinya sendiri, "How can I do better?", seseorang bisa dikatakan "kreatif".

Dia juga punya teori bahwa orang-orang yang BOSAN terhadap rutinitasnya, adalah orang yang ngga mencoba dan berusaha untuk menjawab pertanyaan tadi, "How can I do better?"

-- atau "How can I feel better?"
-- atau ... (find your own questions with your own answers!)

Cuma kita sendiri yang bertanggungjawab atas hidup kita,
mau menjalani hidup yang boringly ever after atau hidup yang lively ever after?
It's on your own answers though...

Be creative, everyone!

Tuesday, 8 April 2008

"Telepon Misterius" di Pagi Hari

Phone_call_1
Kemaren pas ngabisin weekend di rumah Jakarta, begitu bangun pagi-menjelang-siang sambil nungguin jam sarapan ponakan gw, tiba-tiba telepon rumah berdering (sahh bahasanya!)... Gw angkat.

Begini ini percakapan yang terjadi...

Suara-Di-Ujung-Sana : "H-halo.."
(terdengar suara ragu-ragu anak perempuan, kayanya usia-usia baru masuk SD)

Gw : "Halo. Ya?"

"Halo.. Mmm.. Ini siapa ya?"

<<Heh??>>

"..."

"Ini dengan Ajeng. Hmm.. ini siapa ya?"

"Mmm.. Ini Putri.."

"Oo.. Yaa.." (memutuskan untuk bersikap sotoy alias sok tau)
"Putri mau bicara sama siapa ya?.."

"Mmm.. Sama.. A-ajeng.."

<<Heh??>>
"Oo.."
"Oke. Hehe.. Mau bicara apa?"


"Mmm.."
"Ngga.. Udah dulu ya.."

Tuut-tuut-tuut...
... dan terdengar bunyi nada terputus dari ujung sana.

Hmm... What a call! :)

Monday, 14 January 2008

MUST-READ Self-Help Books

One of my guilty pleasures : reading self-help books. :B

Udah lama juga gw ngga nulis review buku. Nahh... sebagai maniak buku-buku self-improvement/self-help/psikologi, gw mau nge-review beberapa buku favorit gw dengan genre tersebut. Lumayan buat pilihan belanja buku kalo lagi ke toko buku.
-- Berhubung buku-buku di toko buku kuantitasnya semakin menggila, jadi susah pas mau pilih buku. Arghghgh...

Buku-buku ini termasuk international bestseller semua, jadi ngga bakal rugi buat dibeli dan dibaca... Enjoy! :)

---

(1) How to Win Friends and Influence People (Dale Carnegie; 1937)

Edisi bahasa Indonesia : "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" ; penerbit Binarupa Aksara, 1995.
How_to_win_friends_and_influence_people
Salah satu buku self-help pertama yang pernah diterbitkan dan termasuk legendaris ini ditulis oleh Dale Carnegie. MUST-READ BOOK. Bagi yang belum tahu, Dale Carnegie adalah seorang tokoh motivator terkenal yang seminar-seminarnya banyak diikuti oleh kalangan bisnis hingga saat ini. Buku yang penting dibaca untuk para calon pemimpin nih. Menjabarkan sifat-sifat dasar manusia yang perlu diketahui oleh setiap manusia lainnya, untuk menghindari konflik, memenangkan perdebatan, mendorong kinerja manusia, dan sebagainya.

Intinya sih bertujuan supaya kita bisa disukai oleh banyak orang sekaligus meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Teknik-teknik yang diterangkan pada buku ini cukup jelas dan sangat praktis, sehingga mudah untuk diikuti dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang gw suka di buku ini, adalah cara penuturan Carnegie menggambarkan apa yang dia maksud dengan menggunakan contoh kasus kejadian nyata, kemudian disimpulkan seluruhnya dalam satu-dua halaman. Karena banyak contoh kasus, ngebacanya jadi lebih gampang dimengerti. Cara penulisannya juga bagus, kaya ngobrol aja, ngga seperti kebanyakan buku-buku praktis lainnya.

Salah satu teknik yang paling penting, dan udah gw amati di pengalaman gw sendiri (it happens all the time) adalah cara menangani atasan/bawahan/rekan kerja. Berhubung gw freelancer, jadi gw udah beberapa kali bekerja dengan atasan/klien yang berbeda-beda, jadi teknik ini kerasa banget benernya. Yeah, mungkin temen-temen gw udah pada tahu ini tentang kejadian yang 'mana', hehehe.

Ini nih triknya : Untuk meningkatkan kinerja para bawahan/relasi, gunakan pujian dan dorongan, hindari kritik-kritik tajam. Penelitian B.F. Skinner, seorang psikolog kontemporer besar, menunjukkan bahwa kritik menurunkan semangat dan sebaliknya pujian memperkuat semangat, hal-hal baik yang dilakukan manusia akan diperkuat, dan hal-hal buruk akan terhenti karena kurangnya perhatian. Ini berlaku untuk binatang maupun manusia. Dan menurut Carnegie, sejarah mencatat banyak tokoh-tokoh besar dunia muncul karena hasil pujian, contohnya Enrico Caruso dan Charles Dickens.

Ini buku sebenernya gw masih minjem ama anak kost (Ahoy, Mit! hehe..). Belum sempet nyari di toko buku sih...

---

(2)
How to Make People Like You in 90 Seconds or Less
(Nicholas Boothman; 2000)

How_to_make_people_like_you_in_90_second

Bagus buat dibaca sebelum proses wawancara kerja, wahaha! :D Menjabarkan bahwa manusia digolongkan menjadi tiga tipe, yakni tipe Kinestetik, Auditori, dan Visual. Dan dengan menyelaraskan sikap tubuh sesuai dengan tipe manusia yang sedang kita hadapi, maka first impression yang timbul akan seperti, "Wah, ada sesuatu pada diri orang ini yang saya sukai!" Hanya dalam waktu 90 detik! Teknik yang dijabarkan di buku ini dapat dibilang cukup praktis dan cukup menarik.

Menurut gw, supaya bener-bener bisa berhasil 'dalam waktu 90 detik', penerapan teknik-teknik yang ada di buku ini membutuhkan banyak latihan. Tapi buku ini cukup oke kok. Walaupun waktu membaca sekilas judul depan buku ini, ada yang berceletuk, "..Wahh, cara melet orang!!"

Ooo-kayyy...

Ga gitu juga kali'. Haha! :D

---

(3) Luck is No Accident (John D. Krumboltz, Ph.D & Al S. Levin, Ed.D; 2004)

Edisi bahasa Indonesia : "Keberuntungan Bukanlah Kebetulan" ; penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer, 2004.
Luck_is_no_accident_1
Buku ini lebih mengarahkan bagaimana menggunakan "kesempatan" sebaik-baiknya, terutama dalam pencarian kerja/karir. Terutama karena para penulisnya merupakan konselor karir yang sudah sangat berpengalaman.

Intisari yang bisa diambil dari buku ini :
1) Jangan takut menghadapi kegagalan! Kegagalan memberikan pengalaman pembelajaran yang hebat, dan terkadang mereka mengarah pada hasil yang lebih baik dari yang dapat Anda perkirakan. Menurut Booker T. Washington : "Kesuksesan diukur bukan hanya dengan posisi yang diraih seseorang dalam hidup, tapi juga dengan hambatan yang telah diatasi oleh seseorang saat mencoba untuk sukses."
2) Libatkan diri secara aktif dalam berbagai aktivitas baru untuk mengetahui apa yang Anda suka dan tidak suka, dan hal ini akan membuka kesempatan-kesempatan menarik berikutnya dalam hidup Anda.
3) Setiap pengalaman adalah jalan untuk belajar. Setiap pekerjaan baru adalah pengalaman pembelajaran yang lain, Anda tidak perlu tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan sebelum Anda menerimanya. -- Pengecualian untuk profesi-profesi khusus yang melibatkan keselamatan jiwa, seperti dokter bedah dan pilot, hehehe...
4) Anda dapat mengubah arah karir Anda sekarang juga, tidak peduli dengan apa yang telah Anda lakukan di masa lalu. Jangan biarkan kesalahan beberapa tahun sebelumnya mengekang hidup kamu selamanya. Hmm gw sering banget denger orang ngga suka ama profesi kerjaannya tapi tetep aja berkutat dan merasa terkekang sendiri di sana, semuanya 'cuma' karena dulu dia salah jurusan. Bagi yang sedang merasa seperti itu, segera baca buku ini!

---

(4) The Secret (Rhonda Byrne, 2006)

Edisi bahasa Indonesia : "the Secret : Rahasia" ; penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.
The_secret
Versi buku dari filmnya yang berjudul sama. Hohoho... Topik yang sedang booming banget nih, kayanya gara-gara sempet dipublikasiin di Oprah. Gw juga taunya malah dari temen gw, si Puti (yuhu!), katanya ada film/buku yang sedang booming banget, judulnya the Secret. Ada ya?? Karena penasaran, akhirnya gw cari aja DVD dan bukunya. Dan ternyata buku ini canggih juga, ahaha.

Kalimat pembuka the Secret adalah seperti ini:
"You're holding in your hand a great secret of the universe. It has been passed throughout the ages, travelling through centuries to reach you. This is the secret to everything -- joy, health, money, relationships, love, happiness -- everything you have ever wanted. For the first time in history, leading scientist, authors, and philosophers will reveal the Secret that utterly transformed the live of those who lived it... Plato, Newton, Carnegie, Beethoven, Shakespeare, Einstein. Now YOU will know the Secret, and it can change your life forever."

Dramatis banget. Tapi mungkin bener juga ya, setelah gw liat tujuan awal dari penulisan buku ini. Penasaran kan?

Gw perhatiin para penyusun buku ini -- tokoh-tokoh sukses semua! -- emang punya rasa antusiasme yang tinggi dalam menghadapi hidup, dan menurut gw 'antusias' adalah salah satu elemen penting untuk mencapai sukses, sepertinya.

Beberapa orang mungkin menganggap buku ini rada-rada 'wishful thinking' alias omong kosong. Tapi setelah gw baca-baca, ternyata seluruh saran yang diberikan di buku ini masuk akal juga. Menurut gw, saran-saran yang ada di buku ini merupakan prinsip-prinsip dasar dalam menjalani hidup sebaik-baiknya. Malah gw bilang, seluruh tips-tips yang pernah gw baca di buku self-improvement, bisa dibilang udah dirangkum di "the Secret". Berlebihan? Mungkin. Hoho...

Kelebihan dari buku ini dibanding buku self-help lainnya adalah teknik-tekniknya dijabarkan dengan gamblang, seperti ilmu praktis. Walaupun penuturan buku ini agak mendoktrin, tapi tujuan di balik itu semua sebenernya bagus banget dan secara tidak langsung mendorong orang untuk lebih meningkatkan kualitas hidupnya. Intinya sih, 'pikiran' kita adalah hal terpenting dari diri kita yang mampu mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik. Sounds like "positive thinking", right?...

'Pikiran' kan cuma 'pikiran', bisa kita ubah saat itu juga.

Nahh gw simpulin, menurut buku ini,
Untuk mencapai "kemakmuran" (wealth), yang diperlukan cuma ini:
1) Mencintai diri sendiri.
2) Berusaha selalu berpikir positif dalam segala kejadian yang kita alami, dan selalu menghindari pikiran-pikiran buruk/negatif.
3) Memiliki kepercayaan kuat bahwa kita MAMPU meraih cita-cita kita, apapun itu. Dan harus selalu antusias dalam bertindak untuk mendekati cita-cita kita.
4) Bersyukur atas segala yang "sudah" dan yang "akan" kita miliki.
5) Dan selalu ingat bahwa : "Bahagia" itu muncul dari diri kita sendiri, dan merupakan tanggung jawab kita sendiri, bukan datang dari orang/barang/whatsoever di luar diri kita.

Begitu baca buku ini dan ngebaca teori the Law of Attraction bahwa "pikiran menjadi sesuatu". Gw jadi mikir-mikir, jangan-jangan peradaban sempurna itu bisa terbentuk karena adanya pemikiran seperti itu. Di mana seluruh penghuninya sudah bisa mencapai tahap pemikiran tertinggi, seperti teorinya the Secret. Hmm kok jadi ngebayangin peradaban alien yak? Hahaha gw kebanyakan nonton sci-fi kayanya... :D

Ehhh... tapi bener ngga ya??...

+ + + + +

Ada saran buku-buku bagus lainnya yang patut dibaca ngga? Eia, gara-gara baca "Edensor"-nya Andrea Hirata dan "Traveler's Tale"-nya Adhitya Mulya dkk, gw jadi pengen jalan-jalan keliling Eropa pake duit sendiri dan secara backpacking, tentunya! Wahaha... Betapa buku amat mempengaruhi hidup orang yak. Ayooo, gantung cita-citamu setinggi langit!! Selagi masih mampu punya cita-cita... :p
Related Posts with Thumbnails