Saturday, 14 April 2007

No. 26

Tanggal 27-29 Maret kemarin gw dkk, cewe2 bertiga doang, sempet main-main ke Semarang (buat survey u/ tesis ding), yihaa seru banget! :D Sempet nyoba ramalan ke Klenteng Sam Poo Kong. Karena sang tour guide sudah membelikan dupa, dan tidak ada yang berminat untuk diramal, majulah daku sebagai pengujicoba, lagian gw jg belum pernah nyoba, penasaran, hehe... Kemudian terjadi dialog seperti ini:

Peramal: "Mau diramal apa Dik?"
Gw : (Bingung) "Hmm... apa yah, saya nyoba-nyoba aja sih Pak..."
Peramal: (terdiam dengan bingung -juga-) "Wah Dik, biasanya kalo mau diramal, harusnya diniatin dulu dari rumah maunya nanya apa..."
Gw: (meringis bingung -lagi-) "Hmmm, apa ya Pak, saya jadi bingung juga nih... Apa aja deh Pak. Hehe..."
Peramal: (terdiam seperti berpikir) "Mau nanya jodoh, karir, atau kuliah? Adik ini masih kuliah? Sudah menikah?"
Gw: "Oia Pak, masih kuliah... Belum menikah."
Peramal: (mengangguk-angguk dengan pasrah) "Yah baiklah saya coba..."
Gw: ("maapp, abisnya emang bingung mo nanya apa???")

Dan dimulailah ritualnya...

Seperti ini nih, kalo ngga salah inget:
Bakar dupa, berdoa, mengambil semacam tempat sumpit yang di dalamnya ada sumpit-sumpit bernomor, di-dupa-in, berdoa, kocok-kocok tempat sumpit tadi sampe ada sumpit yang jatuh, ambil dua buah batu, ketok-ketok batu yang tadi, lempar batu-batu itu ke lantai, diamati, dan sumpit yang jatuh tadi dilihat nomornya, buka lemari untuk mencari kertas bernomor sesuai dengan nomor sumpit, dan TA-DA! Ramalan untukku fresh from the oven! :D
(Klik gambar untuk memperbesar gambar)
Sam_poo_kong_26_small
Sam_poo_kong_26small

Hmmm Semarang walaupun panas, tapi masih enak kok buat jalan-jalan (pake kaki maksudnya), soalnya lebih berangin dibandingin Jakarta.

Tips: Kalo jalan-jalan ke Kota Lama & Pecinan, atau zona-zona historis lainnya di Semarang (atau kota lainnya), lebih baik jalan kaki. Biar lebih kerasa soul-nya.

Thanks for Didot yang udah mo nganter seharian, dan makasih jg buat Dita & Ervin yang udah mo nemenin gw. :)

Kapan-kapan maen ke sana lagi ahh...

Saturday, 13 January 2007

Komik Eropa Jaman Dulu

Haddock
Di rumah gue ada sebuah perpustakaan kecil, yang lebih tepatnya dapat disebut 'gudang', karena selain berisi buku, perpustakaan kecil tersebut juga berisi tumplek-blek barang-barang jadul (jaman dulu) yang udah ngga digunain lagi. Rak-rak dan kardus-kardus berisi buku beserta mainan semasa kecil (lego, CD game, dsb), koper-koper tua yang isinya entah-entah, radio rusak, mesin jahit, mesin tik, mikroskop (beneran!), komputer rusak, semua ada di sanalah pokoknya.

Beberapa hari yang lalu, iseng-iseng gue ngulik ruangan kecil itu, dan serunya gue nemu tumpukan-tumpukan komik berdebu terbitan tahun 1970-1980an. Komik asal Belgia (penerbit Dupuis, Tintin Magazine, & Dargaud, aslinya pake bahasa Perancis) terjemahan Bahasa Indonesia, terbitan Aya Media, Indira, Misurind, Pustaka Sinar Harapan, dsb. Penerbit-penerbit itu pada ke mana ya... Sekarang udah jarang banget terbit komik-komik kaya' gitu.

Bedanya sama komik Jepang yang ukurannya kecil dan hitam-putih, komik Eropa itu ukurannya A4 dan berwarna semua. Gue jadi inget jaman TK & SD, hehehe... By the way, pas TK mah gue masih belum lancar baca, jadi sukanya cuma liat-liat gambar warna-warni doang. Komik-komik yang gue temuin itu antara lain : Lucky Luke, Smurf, Tintin, Asterix, Nina, dan komik-komik lain yang mungkin kurang dikenal tapi tetep kocak : Barelli, Papa Nick, Agen Polisi 212, Bob si Napi Badung, Arad dan Maya, Isabella, Steven Sterk, Valhalla, Hoem Pa Pa, Olivier si Anak Ajaib, dll. *Ada yang inget?* :)

Sayangnya, kadang-kadang ada beberapa komik yang beberapa lembarannya hilang... Lagi seru-serunya baca, tiba-tiba "Lho kok ceritanya ngga nyambung gini??" Eeh ternyata emang halaman bagian tengahnya ada yang ilang. Sial...

Hmm.. karena gue lagi seneng karena nemu 'sebagian kecil dari masa kecilku', gue udah scan + edit (biar lebih jelas) beberapa bagian komik yang gue anggep lucu dan gue taruh sini. Tapi maap-maap aja kalo udah pada menguning, jadul boow... Hahaha! Enjoy! :)

*Berhubung ukuran gambar tidak sesuai dengan window browser, gue anjurin lebih baik klik kanan di gambarnya trus buka di window lain (pilih opsi "open link in new window" atau "open link in new tab")

Lucky Luke: "Caravan", by Morris & Goscinny. Dargaud Editeur, 1985.
Terbitan PT. Indira, cetakan kedua 1993.
Luckyluke001 Luckyluke002

Lucky Luke, quicker than his own shadow...
"I'm a poor lonesome cowboy, and a long way from home..."


Kisah Petualangan Tintin: "Tawanan Dewa Matahari", by Hergé. Editions Casterman, 1975.
Terbitan PT. Indira, cetakan pertama 1975.
Tintin001 Tintin002 Tintin003

Barelli
: "Teka-Teki Barelli", by Bob de Moor (nah dia ini salah satu anggota Studios Hergé, yang terkenal dengan karya Tintin-nya itu). Lombard, 1982.
Terbitan PT. Indira, cetakan pertama 1984.
Barelli001 Barelli002

Kisah Smurf
: "Kepala Smurf dan Smurf Keras Kepala", by Peyo & Y. Delporte. Dupuis, 1987.
Penerbit PT. Aya Media Pustaka, cetakan pertama 1987.
Smurf001 Smurf002

+ + + + +


PS. Oia, hasil scan hanya untuk kepentingan hiburan semata, harap jangan dipergunakan kembali untuk kepentingan komersial yaa. (Masalah hak cipta soalnya) Makasiii untuk perhatiannya... :)

Friday, 29 September 2006

Sebuah Renungan untuk Para Arsitek & Planner

By_andrew_toos

Architects and planners may be heard to ask,
"Why are people so stubborn or misguided as not to use the places and spaces we design-either not at all or not in the right way?"


People may be heard to ask,
"Why are architects and planners so insensitive in what they put up and expect us to live with? Why do they often leave out just what we think is important?"


Contance Perin
- With Man in Mind.

Thursday, 17 August 2006

Kite Runner, by Khaled Hosseini


BAGUS BANGET.


Tadinya gw cuma bawa buku ini buat ngabisin waktu nunggu giliran fisioterapi di Boromeus, begitu baca beberapa halaman aja gw udah tertarik bgt. Ternyata emang bagus bgt, plotnya bikin penasaran. Pokoknya BAGUS. Ngga rugi deh kalo baca novel ini: the Kite Runner (ditulis oleh Khaled Hosseini). Novel Afghanistan, settingnya di Afghanistan tahun 1970an-2002, periode pasca Perang Dingin & periode rezim Taliban di negara tersebut. Salah satu novel terbaik yg pernah gw baca dalam beberapa bulan terakhir ini. Ngajarin tentang persahabatan, kesetiaan, kehormatan, kebanggaan, dan penebusan dosa masa lalu. *Cie, jarang2 kan gw berkomentar kaya gini... :D

Novel ini juga dapet pujian dari the New York Times Book Review (#1 New York Times Best-Seller), San Francisco Chronicle, People Magazine, dan masih banyak pujian dari media2 lain. Ini salah satu review-nya, dari the New York Times Book Review, klik sini. Review dalam bahasa Indonesia, klik sini.

Karena gw males nulis preview ttg buku ini, berhubung gw udah kelamaan di warnet & ada presentasi jam1 siang ini & gw udah kebelet mo ke WC, jadi gw contek preview yg ada di cover belakang aja ya, hehehe :
Seperti Amir, tokoh utama dalam The Kite Runner, aku kembali ke Afghanistan setelah 27 tahun berlalu. Seperti Amir, aku mengira telah melupakan negeri ini. Ternyata tidak. Mungkin Afghanistan pun belum melupakanku. Tetapi, tidak seperti aku, Amir kembali untuk alasan yang lebih mulia. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang anak yang belum pernah dikenalnya. Untuk menebus dosa-dosanya.

Saat berada di tengah riuh rendah jalanan Kota Kabul, aku tenggelam dalam rasa bersalah yang selama bertahun-tahun menghantui Amir. Di Afghanistan, aku berusaha membangkitkan kenanganku, dan di tempat yang sama, Amir harus berjuang melawan kepedihan masa lalunya. -Khaled Hosseini
Okeh mo cabs dulu ah... Bukunya belum selesai gw baca nih, hiii pokoknya bikin penasaran sekalii... :D Musti baca, baca, baca!

Tuesday, 4 July 2006

Yogyakarta Pasca-Gempa

Gempa 27 Mei 2006.

Kemaren gw baru pulang dari Yogya, nengok rumah Eyang. Ternyata lumayan parah juga keadaannya. Sebelum gw ke Yogya, gw smpt ngeliat foto2 keadaan rumah yang diambil Om gw sehari setelah gempa 27 Mei, keadaannya emg udah parah banget. Bagian belakang rumah rusak berat, trus atapnya miring (beneran miring!), trus dinding yang masih nyisa juga rada retak2. Foto2 di bawah ini foto bagian belakang rumah, bagian kamar mandi. Yang kiri : foto sehari sesudah gempa; foto kanan : foto sebulan setelah gempa (sedang diperbaiki).

Sebelum_perbaikanSesudah_perbaikan

Kemaren pas kesana udah ada beberapa perbaikan (sebulan setelah tragedi gempa), Om gw sendiri yang mem-supervisi 3 pekerja yang benerin rumah, berhubung Om gw anggota SAR makanya kerjaannya efektif banget, rada takjub juga gw. Dinding2 lama udah dirobohin, jadi skrg di bagian tengah rumah Eyang udah kaya atrium gitu, bermandikan cahaya matahari, haha... Atap udah tegak lagi, sekarang lagi ngeganti tiang lama jadi tiang baru. Nah tiang baru ini pake kayu kelapa, idenya bokap+Om gw, dari artikel tentang rumah berkonstruksi kayu kelapa di Kompas (edisi kapan ya lupa).

Gw sendiri, aduh jadi malu, ngga begitu ngerti soal konstruksi, jadi ya oke2 aja. Teori sih mungkin oke, tapi praktek ngga juga ya, hahaha... Bener2 kurang pengalaman lapangan nih gw, terakhir bangun rumah udah berapa tahun yang lalu ya? Tahun 2002 kayanya. Jadi gw bantuin buat denah susunan ruangan yg baru aja, sekaligus beres2in ruangan yang masih ada, nyapu2 & nge-pel lantai, hehe.... Udah gitu gw sempet salah otot segala, eh apa sih istilahnya, pokoknya pas bangun tidur, otot gw kaya kaku gitu. Itu sih mungkin gara2 salah posisi tidur ya?? Haha...

Menariknya, gw baru tau, ternyata rumah2 jaman dulu itu kolom2nya ngga pake tulangan! Cuma batu bata ditempel pake campuran kapur+batu bata+plesteran+dan bahan2 lainnya (gw lupa). Pantes aja roboh...

Ada lagi yang menarik, Om gw pas ngegali tanah buat bikin pondasi, nemu 'umpak' (pondasi jaman dulu) dan di bawah umpak itu ada tapal kuda tua. Katanya sih, buat penolak bala, dan biasanya yang ditaro di sana harus tapal kuda bekas. Wah menarik ya... Gw baru tau lho. Tapi lupa gw foto, jadi ngga bisa gw tunjukin.

Di Yogya, Eyang Uti cerita2, dia denger cerita dari tetangga2nya waktu terjadi gempa, tanah udah kaya ombak aja. Katanya mo lari aja susah. Waduh. Gw bersyukur banget, untungnya waktu terjadi gempa, Eyang gw lagi di Jakarta buat acara pernikahan kakak gw! Waktu itu gw lagi di Bdg, kaget bgt pas dpt SMS dari nyokap yang isinya ngabarin tentang keadaan rumah di Yogya. Mana pas liat berita, korbannya lebih banyak kakek-nenek lagi! Gile, ketar-ketir aja gw kalo waktu itu Eyang gw lagi di Yogya! Alhamdulillah bgt, acara pernikahannya harinya nge-pas gitu (tgl 25 Mei kawinan & tgl 27 Mei gempa)... Fyuh.

Kalo selama ini gw cuma liat keadaan Yogya di berita2, kemarin baru bener2 ngeliat sendiri kalo gempa Yogya emg parah bgt, bangunan2 baru aja banyak yg rusak berat. Sekarang Yogya sedang masa pemulihan. Brangkalan2 (sisa2 bangunan) numpuk di depan rumah2 & bangunan2 gede. Bangunan2 rusak lagi diperbaiki.

Tapi yang gw tangkep waktu di Yogya, suasananya tuh jadi kekeluargaan bgt. Waktu gw sedang duduk2 di teras rumah Eyang bareng2 Eyang+nyokap+Om, ada tetangga Eyang yg lewat depan rumah (namanya Pak Budi), trus sempet ada percakapan kaya gini (udah diterjemahin pake bahasa Indonesia, tadinya pake bahasa Jawa, hehe) :

Eyang Uti : "Pak, gimana keadaan rumah? Baik2 aja?"
Pak Budi : "Alhamdulillah Bu..."
Eyang Uti : "Wah syukur deh, rumahnya baik2 aja ya?"
Pak Budi : "Bukan Bu. Alhamdulillah, keadaan rumah sama aja seperti yang lain. Hehehe..."
(maksudnya : sama2 rusak berat)
Eyang Uti : (senyum2 heran) "Lho?? Tapi keluarga ngga apa2 kan?"
Pak Budi : "Iya, alhamdulillah sehat2 semua Bu..."

-cut-

Eyang gw juga kayanya lebih tenang pas udah balik ke Yogya lagi. Pas di Jkt, kadang2 suka diem lamaa gitu, kaya banyak pikiran. Tapi masih bisa diajak becanda, hahaha kalo cucu2nya udah muncul jailnya, bisa abis deh Eyang gw dijailin. Eyang gw lucu banget orangnya. :D Tapi Eyang orangnya tough sih, jadi kaya ngga mau ngerepotin keluarganya, pdhl kita ngga prnh ngerasa direpotin. Kalo di Yogya, mungkin karena banyak yang senasib sepenanggungan & bisa bagi2 cerita, makanya Eyang jadi rada tenang juga ya... Yah, asal Eyang seneng aja sih. Skrg Eyang Uti masih di Yogya, masih pengen di sana katanya. Aduh, gw udah kangen lagi nih ama perut 'ndutnya. Hohoho... :)

Siang ini gw mo ke Bdg lagi nih, hyaa kok rasanya males beres2 yaa...
Related Posts with Thumbnails